Jumat, 13 November 2009

Lost In Seoul Version 2.0 update

Cast : Suju Members, DBSK Members

Park Shin Yang a.k.a authors 1

Park Yuri a.k.a author 2

Note: mostly cerita ini dalam bahasa indo karena author ga mau repot ngasih footnote. Harap maklum.. Btw.. It's a fiction.


 

Scene 1

Decit mobil terdengar di jalanan yang licin malam hari itu…

Brraaakkkk… bunyi benda berbenturan keras, memecah kesunyian malam.

Dalam keremangan malam, sesosok tubuh terbujur kaku.

Tak lama, dua orang laki-laki keluar dari sebuah mobil audi hitam.

Salah seorang laki-laki itu memeriksa keadaan tubuh tersebut, sedang yang lainnya hanya berdiri terpaku seperti patung.


 

"Ya Tuhan… apa yang sudah kulakukan?" gumam laki-laki yg mematung itu.

"Hyung… dia masih hidup!! Masih ada denyut nadinya. Ayo cepat, kita harus membawanya ke rumah sakit!" kata yg satunya lagi.

"Tidak!... kita pergi saja dari sini!"

"Yang benar saja hyung! Orang ini sekarat, ga mungkin kita ninggalin dia seperti ini! Kalau sampai hal ini masuk berita, bisa hancur kita. Lebih baik kita tunjukkan tanggungjawab kita hyung!" teriak laki-laki yang berjongkok itu.

Laki-laki itu tampak berfikir.. lalu berkata, "Kau benar, aku harus bertanggungjawab. Seorang Kim Youngwoon bukan seorang pengecut. Ayo!!" katanya sambil menggangkat tubuh kaku di hadapannya.


 


 

Scene 2

Di sebuah rumah sakit…

Audi hitam itu memasuki rumah sakit dan berhenti tepat di depan ruang bertuliskan "Emergency Unit". Dua orang laki-laki keluar, salah satunya setengah berlari bergegas membuka pintu belakang audinya dan mengangkat keluar seorang wanita yang berlumuran darah.

"Perawat!!! Dokter!!! Tolong!!! Tolong saya!!! Ada yang terluka!!!" teriak temannya, sambil membukakan pintu ruang "EU" itu.

Bergegas beberapa orang perawat segera mengambil alih orang yang terluka itu dan membawanya ke salah satu ruangan.

"Maaf, mohon anda berdua menunggu di luar," kata seorang perawat sebelum menutup pintu ruangan.


 

Scene 3

"Kyu~ah, bagaimana kalau dia mati?" tanya laki-laki yang bernama Kim Youngwoon itu pada laki-laki yang ada disampingnya. Mereka masih berada di ruang tunggu rumah sakit itu.

"Tenanglah hyung… Lebih baik kita berdoa semoga perempuan itu baik-baik saja." Kata Kyuhyun menenangkan hyungnya.

"Tapi Kyu~ah… masih masih belum cukup masalahku, dalam waktu yang hampir bersamaan aku sudah dua kali melakukan kesalahan, berkelahi dan tabrak lari. Apa karirku akan benar-benar hancur? Sekarang saja SM sudah men-skors ku…" dengan nada sedih Youngwoon berkata sambil menelungkupkan wajahnya.

Kyuhyun merangkul pundak hyungnya, menyemangatinya.


 

Kang in POV

--------Flash Back-------

"Hari ini, salah seorang member boyband terkenal SuperJunior terlibat perkelahian di depan salah satu club di Seoul…."

Rekaman siaran itu seperti menampar muka para eksekutif di SM tempat ku bekerja. Mereka melalui manajer, menyatakan bahwa aku di skors dari kegiatan band ku sampai akhir tahun ini. Tanpa peduli dengan penjelasanku bahwa aku hanya melakukan pembelaan diri. Aku begitu kesal hingga memutuskan untuk minum-minum. Ditemani dengan magnae di bandku, Kyuhyun, kami pergi kesebuah pub di pinggiran kota Seoul, pulangnya aku memaksa Kyu agar aku yang mengemudi, hingga terjadilah kecelakaan itu.

-------End of Flash Back------

Suara pintu terbuka, membuyarkan lamunanku. Seorang pria berjas putih keluar dari ruang EU. Aku segera bangkit dan mendekatinya.

"Dokter, bagaimana? Apa yang terjadi?" cecarku

"Hm… maaf apa anda keluarga pasien?"

"eh.. emm…" aku tergagap, untung Kyuhyun tanggap

"Bukan dokter, kami hanya temannya, kenapa?"

"Oh… Begini, luka-lukanya cukup parah, sepertinya dia mengalami koma, ada pendarahan di otaknya, mudah-mudahan saja pendarahan ini tidak fatal. Dua tiga hari ini merupakan masa kritisnya, mohon hubungi keluarganya karena sewaktu-waktu kami perlu persetujuan untuk melakukan operasi." Jelas dokter itu. "Dan… satu lagi, sebentar lagi perawat akan keluar untuk memberikan baju dan barang-barangnya." Katanya sebelum meninggalkan kami.

Tubuhku langsung lemas hingga aku langsung melorot saat bersandar pada dinding.

"Aku hancur…" bulir-bulir airmata mulai memenuhi mataku.

Kyuhyun langsung memelukku.

"Sabarlah hyung…"

Sambil terisak, aku berbisik, "Bagaimana aku bersabar… polisi pasti akan menangkapku, bagaimana jika mereka tahu kalau aku habis minum, dan menyebabkan orang itu hampir mati."

Kyuhyun terdiam. Aku menangis dipelukannya.

End of Kang In POV

~~continued~~


 

Scene 4

Kyuhyun POV

Walau ini bukan pertama kalinya aku melihat Kang-in hyung menangis, tapi ini pertama kalinya Kang-in hyung begitu terpuruk. Aku tau aku tak bisa melakukan apapun selain memeluknya, menyemangatinya. Hampir 10 menit hyung menangis di pelukanku. Hingga akhirnya perawat keluar dari ruang EU. Sambil menyerahkan pakaian yang warna aslinya sudah tertutupi oleh darah perawat itu berkata, "Maaf, tolong kalian segera urus administrasi teman kalian, dan ini resep yang harus kalian tebus. Jika kalian sudah mengurus administrasinya, nona itu bisa segera dipindah ke ruang perawatan dan kalian bisa menemaninya."

Aku melepaskan pelukanku, bangkit menghampiri perawat tersebut, sambil tersenyum berkata, "Baik, nanti kami akan mengurusnya, Terima kasih."

Aku berpaling, hyung masih duduk mematung dengan sisa tangisannya. "Hyung, aku harus mengurus administrasi dan menebus obat, tolong kau jaga disini dulu ya."

Hyung tak menjawabku, masih terpaku. Aku menghampirinya dan menepuk bahunya, "Hyung, apa kau mendengarku?"

Kang-in hyung mengangkat wajahnya, "Apa?"

"Aku tadi bilang, wanita itu harus diurus administrasi dan obatnya, hyung jaga dulu disini ya."

"Tapi.. bagaimana kita mengurus administrasinya, kita bahkan tidak mengenalnya?"

"Sudah, biar itu aku yang urus," jawabku.

"Baiklah…" Kang-in bangkit dan berjalan menuju ruang EU. Aku pun membalikkan badanku dan berjalan menuju pusat administrasi.

End of Kyuhyun POV


 

Scene 5

Di asrama Suju

Leeteuk mondar-mandir di ruang keluarga apartemen Suju. Tak henti-hentinya dia memperhatikan menit-demi menit di jam dinding.

"Hadooohhhhh…. Dua anak itu kemana saja sih??? Masa jam 1 pagi mereka masih belum kembali???" gumamnya, masih sambil mondar-mandir.

Donghae yang sedang menuju ke kamar mandi melihat gerak gerik Leeteuk berhenti,

"Ya, hyung… tidur saja, jangan tunggu lagi, besok kan kita libur, jadi biar saja…."

Leeteuk berpaling pada Donghae, "Tapi ga biasanya kan mereka ga ngasih kabar kalau mau pulang telat??? Mana HP mereka ga ada yg aktif… Hufff…. Bikin aku pusing saja"

"Hyung mau aku temenin sampai Kang-in Hyung dan Kyu pulang?" Tanya Donghae. "Tidak usah, kau tidur sajalah. Kalau sampai jam 2 mereka belum pulang atau kasih kabar, aku juga akan tidur," kata Leeteuk sambil sekali lagi memandang jam dinding dan menghela nafas dengan berat.


 

Scene 6

Sinar matahari pagi menyelusup dari pinggir tirai jendela, kicauan burung seolah berusaha membangunkan para manusia untuk memulai hari yang cerah. Tapi di apartemen Suju, pagi yang damai sedamai dengkuran para penghuninya, dikejutkan oleh sebuah teriakan sehingga membuat pingsan burung-burung yang kebetulan lewat.

"AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!"

Teriakan super cempreng itu sukses membangunkan semua penghuni apartemen Suju yang langsung berhamburan keluar kamar. "Woi, ada kebakaran yak??" Teriak Ryewook sambil panik keluar kamar. Semua member Suju langsung menuju sumber teriakan yang ternyata ada di ruang keuarga.

"Teukie Hyung, ada apa?? Kebakaran?? Kebanjiran?? Eh.. ga mungkin ya, kan kita di apartemen jadi ga mungkin kebanjiran…" kata Eunhyuk sambil benerin celananya yang melorot.

Leeteuk yang ternyata menjadi sumber teriakan menoleh kearah para member Suju dan berkata, "Yah, aku telat bangun… Udah jam 9, padahal kan jam 8 tadi ada re-run sailormoon episode 52 di CBS… huaaaaaaaaaaaaa" (Leeteuk mulai geje). Langsung saja para member Suju menyambit Leadernya dengan benda apa saja yang bisa mereka raih.

Sambil berusaha menghindari sambitan, Leeteuk berlari menuju dapur. "Woi… kok gue ditimpukin sih? Oya, si Kangin sama Kyuhyun udah pulang belum???"

"Belum Hyung…" kata Donghae, "lagian kalo mereka pulang masa hyung bisa ga tau sih, kan hyung yg tidur diluar…"

"Hehehe…(masih geje) maap, kan gue kan belom loading." Teriak Leeteuk yg masih ngumpet di dapur takut disambit.


 

Scene 7

Sementara itu di rumah sakit, Kang in tertidur di bangku disamping ranjang pasien. Suara monitor detak jantung dibarengi hembusan nafas pasien terdengar dalam alunan lembut. Kyuhyun baru saja kembali dari kafetaria rumah sakit sambil membawa dua gelas kopi, tanpa suara memasuki kamar perawatan, namun tetap saja langkah kakinya membangunkan Kangin.

"Ah, Kyu~ah, kau sudah bangun rupanya? Apa yang kau bawa, wangi sekali?" kata kangin sambil menguap dan meregangkan otot2nya.

"Ah Hyung, maaf aku membangunkanmu, ini aku bawakan kopi." Jawab Kyuhyun.

Sambil menerima gelas, Kangin memperhatikan perempuan yang masih terbaring tidak sadar itu. "Ah.. Kyu, bagaimana ini? Siapa dia kita tidak tahu, kita harus bagaimana? Oh iya, apakah kau sudah menelpon ke Leeteuk, mengabarkan keadaan kita?"

Kyu tersentak. Gara-gara kepanikan semalam dia benar-benar lupa mengabari leadernya apa yang terjadi pada mereka. Buru-buru dia mengambil hp di kantongnya, namun mendadak dia lemas.

"Ah hyung.. maaf, aku lupa, sekarang hpku mati… aku lupa kalau semalam baterai hp ku sudah hampir habis. Sudah biar aku pergi ke telepon umum diluar saja untuk mengabari mereka," kata Kyu sambil berbalik hendak keluar dari ruangan tapi tiba-tiba Kang-in mengejar.

"Kyu… Chankaman.. Itu.. tolong kau hubungi Leeteuk saja, jangan yang lain, ara?"

"Ara hyung." Angguk Kyu. Kangin menepuk pundak Kyu dan kembali kedalam ruangan.


 

Scene 8

Leeteuk baru saja keluar dari kamar mandi, dengan handuk yang masih melilit pinggangnya. Tiba-tiba ponselnya berbunyi dengan ringtone disco drive. Sambil menggosok-gosokkan handuk kecil untuk mengeringkan rambutnya basah, ia meraih ponselnya.

"Yoboseo.. Nugu ya? Ya Kyu!!! Kemana saja kalian!!! Tidak memberi kabar lagi. Kau sudah tidak mengganggap aku sebagai hyungmu lagi ya??" Leeteuk marah saat mendengar suara Kyu di seberang.

"Maaf hyung.. semalam kami panik, hingga aku lupa menelponmu, dan pagi ini baterai ponselku habis, ini aku menelponmu dari telepon umum di rumah sakit. .."

"Mwo!!!! Rumah sakit??? Ya tuhan… apa yang terjadi pada kalian berdua??? Apa kalian kecelakaan???" Leeteuk langsung panik mendengar kata rumah sakit sambil memegangi handuknya yang hampir melorot.

"Sabar hyung…sabar… kami tidak apa-apa. Tapi memang ada kecelakaan, mmmm… hyung.. bisa tidak hyung ke rumah sakit NN? Tapi mohon jangan beritahukan hal ini pada yang lain, nanti kami jelaskan disini," ucap Kyu takut-takut.

"Ne. Ya sudah… aku segera kesana, ah.. kalian ini.. selalu membuatku pusing," hela Leeteuk. Setelah ia menutup ponselnya, ia langsung memakai pakaiannya, meraih jaket dan kunci mobil lalu keluar.


 

Scene 9

Kang in menatap wajah perempuan didepannya.

Siapa perempuan ini? Kenapa tidak ditemukan tanda pengenal apapun? Apa yang akan terjadi seandainya dia bangun nanti? Jangan–jangan nanti dia malah melaporkan aku ke polisi. Ah.. tidak…tidak mungkin.. hal itu tidak mungkin terjadi. Tapi… kalau iya, lebih baik dia mati saja.

Wajah Kang in sedikit mengeras sambil menatap perempuan itu, namun kembali melembut. Tapi, dia manis juga, walau kulitnya berbeda dengan kulitku. Kalau dilihat-lihat sepertinya dia dari Philipina atau Malaysia, umurnya pun mungkin sedikit diatasku. Tapi sungguh lucu, masa malam-malam dia mengenakan selendang menutupi kepalanya, ahhh… . Jika dia bangun nanti dan mengenali penabraknya apa aku sanggup bertanggungjawab?

Ah sudahlah… jangan terlalu banyak kupikirkan… yang penting semoga dia cepat sadar, sebelum keadaanku jadi lebih buruk. Tanpa disadarinya, Kang in mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan rapuh itu, sambil terus menatapnya.


 

Scene 10


Lee teuk menatap Kang in dari luar jendela ruang rawat lalu berbalik menghadap Kyuhyun.

"Kyu, bagaimana dengan polisi?"

"Tidak hyung, sampai saat ini, kami mengurus perempuan itu dengan berdalih bahwa perempuan adalah teman kami yang tertabrak, tapi kami tidak menemukan tanda pengenal jadi kami berbohong tentang perempuan itu." Kata Kyu polos. "Tapi, Kang in hyung sejak semalam tidak mau pergi dari sisi perempuan itu, mungkin dia sangat merasa bersalah, ah hyung… bagaimana ini?"

Lee teuk berfikir sebentar, "Antar aku menemui kepala rumah sakit."


 

Scene 11

Yuri POV

Bandara Incheon belum sepadat seharusnya pagi itu. Aku berjalan celingukan sambil menyeret koper. Ku rogoh kantung saku celanaku dan mengeluarkan ponsel. Ku ketik sederet nomor kemudian ku tekan tanda call. Tak berapa lama suara operator telpon yang menjawab. Ku hembuskan napas,"Kemana sich kakak?? Seharusnya dia menjemputku. Dia kayak nggak tau gue aja. Kalo ilang di Seoul alamat kagak balik ke Indonesia gue."

Kulangkah kan kaki ku keluar bandara menuju sebuah bis. Dengan modal sebuah alamat yang dicatatkan kakak, aku pun nekat. "Kalo nyasar gimana ya? Ah, bodo amat dah," gumamku.


 

Scene 12

Donghae POV (dalam bahasa korea)


 

Donghae sedang berjalan menuju kedai kopi langganannya di dekat asrama Suju. Namun demi keselamatannya, terpaksa dia harus memakai jaket beserta topi andalannya dan masker. Tapi tiba-tiba..TUK.. sebuah kaleng minuman ringan melayang mengenai kepalanya. Dipengangnya bagian kepala yang terkena kaleng tersebut sambil meringis. Kemudian mencari dari mana benda itu bisa sampai dikepalanya. Dilihatnya seorang gadis berdiri meringis saat dia melihat gadis itu.

"Ah, Maaf," ucapnya pada Donghae.

'Ini orang ngomong apa ya??' ujar Donghae dalam hati.

"Eh, dasar o'on dia kapan gag ngerti bhs Indonesia. Hmm, Sorry Sorry," kata gadis tersebut.

"What?? U like our song SORRY SORRY?" tanya Donghae.

"Hah?" gadis itu bengong nggak ngerti apa yang ditanyain Donghae,"No, I mean your head." Sambil menunjuk kepala Donghae.

"Ahh," ujarnya mengerti,"It's Ok."

"..."

"Hi, Are u a tourist??" Tanya Donghae.

Gadis itu hanya menganggukan kepalanya. Kemudian dia memasukan tangannya ke dalam saku celananya untuk mengeluarkan sebuah memo. Dan menunjukan memo itu kepada Donghae.

"Bisa tunjukin alamat ini gag? Eh, kalo bahasa Inggrisnya apa ya?? Duh, kenapa sich bahasa Inggris gue yang udah pas-pasan malah ngilang dari otak gue disaat penting gini," gerutu gadis itu sambil garuk-garuk kepala kesal.

Donghae langsung mengambil memo dari tangan gadis itu dan membacanya, kemudian berkata,"Follow me." Saat mereka mau berjalan, tiba-tiba hujan turun disaat yang kurang tepat.

"Ah, hujan," ucap gadis itu. Donghae dan gadis itu berlari menuju kedai kopi langgangan Donghae.

"Kita nunggu hujan reda, baru aku antar ke alamat yang kamu maksud," kata Donghae dalam bahasa korea.

"Huh?"

"Kita nunggu hujan reda, baru aku antar ke alamat yang kamu maksud," Donghae berkata sambil nunjuk langit yang hujan dan memo yang diberikan gadis itu. "Disini dingin, lebih baik masuk ke dalam." Sambil nunjuk kedai kopi. Gadis itu pun mengangguk setuju dan mereka berdua masuk ke dalam kedai kopi.

Suasana kedai kopi sedang tidak ramai seperti biasanya. Ini membuat Donghae lebih santai. Dia pun memilih duduk di pojok ruangan, dipersilakannya gadis itu duduk di sofa sebrang sofa yang dia duduki.

"This café is my favorite. Hm, what do you want?" ujar Donghae.

"Hmm, Cappucino," ucapnya sambil tersenyum.

Donghae balas tersenyum, kemudian melambaikan tangannya memanggil waiter. Waiter berseragam hitam putih pun datang menghampirinya dengan membawa memo di tangan kanan dan pulpen di tangan kirinya untuk menulis.

"2 Cappucino dan 2 strawberry chesse cake," kata Donghae.

Waiter itu pun mengangguk dan meninggalkan mereka berdua.

"By the way, what your name?" Tanya Donghae sambil melepas maskernya.

"I'm Yuri from Indonesia. And you?" jawab Yuri.

"Donghae."

Waiter akhirnya datang membawakan pesanan mereka.

"Kamsahamnida," ucap Donghae ke waiter.


 

Scene 13

Yuri POV (note: dalam bahasa indonesia)


 

"Sarap!! Sial banget gue. Masa gue nyasar di Seoul," gerutu saat aku menyusuri jalan. Aku gag tau lagi mesti nanya alamat sama siapa. Abis seantero kota Seoul itu jarang ada orang yang bisa bahasa Inggris. Yah, walau bahasa Inggris gue rada gag bener sich. Tapi masih mendingan sich dari pada gag bisa sama sekali. Aku pun terus menyusuri jalan yang sama sekali tidak aku kenal. Kuseret koper yang aku bawa.


 

"Ah, cape'," ucapku sambil menendang kaleng bekas yang menghalangi jalanku. Namun,"Ouch."

"Waduh, mati gue," dengan spontan aku mengigit ujung ibu jariku saat melihat seorang pria yang terkena kaleng hasil sepakanku tadi.

"Ah, maaf," ucapku. Pria itu terlihat bingung.

"Eh, dasar o'on dia kapan gag ngerti bhs Indonesia. Hmm, Sorry Sorry," ujarku minta maaf.

"What?? U like our song SORRY SORRY?" tanyanya.

"Hah?" aku bertanya dalam hati,'nich orang ngomongin apaan sich?'."No, I mean your head?" sambil nunjuk kepalanya yang terkena.

"Ah," ucapnya mengerti,"It's fine."

"…"

"Hi, Are u a Turis??" Tanyanya padaku.


 

Ku anggukan kepala sebagai jawaban. 'Ah, sekalian aja gue nanya alamat kakak. Dimana ya gue simpen tadi.' Setelah ketemu kuberi unjuk memo kecil itu padanya.


 

"Bisa tunjukin alamat ini gag? Eh, kalo bahasa Inggrisnya apa ya?? Duh, kenapa sich bahasa Inggris gue yang udah pas-pasan malah ngilang dari otak gue disaat penting gini," gerutu ku sambil garuk-garuk kepala kesal.

Pria itu sepertinya langsung mengerti dan mengambil memo dari tanganku dan membacanya, kemudian berkata,"Follow me." Saat kami mau berjalan, tiba-tiba hujan turun disaat yang kurang tepat.


 

"Ah, hujan," ucapku. Aku dan pria itu berlari menuju sebuah café dipinggir jalan.

"Kita nunggu hujan reda, baru aku antar ke alamat yang kamu maksud," kata pria itu.

"Huh?" tanyaku bingung.

"Kita nunggu hujan reda, baru aku antar ke alamat yang kamu maksud," pria itu berkata sambil nunjuk langit yang hujan dan memo yang kuberikan "Disini dingin, lebih baik masuk ke dalam." Sambil nunjuk kedai kopi. Aku pun mengangguk setuju dan mereka berdua masuk ke dalam kedai kopi.

Suasana kedai kopi sedang tidak ramai seperti biasanya. Itu sepertinya membuat pria itu lebih santai. Dia pun memilih duduk di pojok ruangan, mempersilakanku duduk di sofa sebrang sofa yang dia duduki.

"This café is my favorite. Hm, what do you want?" tanyanya.

"Hmm, Cappucino," jawabku sambil tersenyum.

Pria itu balas tersenyum, kemudian melambaikan tangannya memanggil waiter. Waiter berseragam hitam putih pun datang menghampirinya dengan membawa memo di tangan kanan dan pulpen di tangan kirinya untuk menulis.

"2 Cappucino dan 2 strawberry chesse cake," kata pria itu.

Waiter itu pun mengangguk dan meninggalkan mereka berdua.

Ku perhatikan pria itu dan dalam hati aku bertanya,'Kenapa dia pake masker gitu ya?? Jangan-jangan ini orang kena swine flu lagi.'

"By the way, what your name?" tanyanya sambil melepas maskernya.

"I'm Yuri from Indonesia. And you?" jawabku.

"Donghae."

Waiter akhirnya datang membawakan pesanan mereka.

"Kamsahamnida," ucap Donghae ke waiter.


 

Saat aku melihat wajahnya aku sepertinya mengenalnya. Kuperhatikan wajahnya saat sedang menggeser cangkir cappucinonya. 'Ya ampun,' ujarku dalam hati.


 

"Are you Super Junior member?" tanyaku, karena aku sepertinya pernah melihatnya di halte bus saat aku turun dari bis tadi.


 

"You know Super Junior?" tanya Donghae. Aku mengangguk.


 

"Ads, I saw u on the ads at the bus stop. I saw u there," kataku.


 

"Ah…" ucap Donghae.


 


 

Scene 14

Sepuluh hari sudah Kang in di rumah sakit, sepuluh hari itu pula ia tidak pulang ke apartemen. Walau tidak semua personil suju datang, selain menghindari wartawan juga karena personil suju sedang sibuk mempersiapkan konser final mereka tahun ini. Namun biasanya sang Leader Leeteuk dan magnae Kyuhyun menyempatkan datang membawakan pakaian ganti dan makanan untuknya. Rasa bersalah yang mendera Kang in membuatnya tidak ingin meninggalkan wanita yang menjadi korban tabrak larinya. Namun rupanya ada hal lain yang membuatnya tetap tinggal disana. Wanita tersebut tidak memiliki tanda pengenal, hanya pakaian dan selendang penutup kepala yang dikenakannya pada malam kecelakaan, beberapa lembar uang, sebuah jam tangan perak dan sebuah kalung dengan cincin sebagai liontinnya. Kang in yang bosan akhirnya sering mengajak wanita yang sedang koma itu bercakap-cakap.

"Park Shin Yang…" bisik Kangin saat memperhatikan cincin yang ada di genggamannya. Apa mungkin ini nama wanita itu? Bisa jadi Kang in~ah.. kau lihat nama ini terukir di cincin yang mereka temukan. Sambil menimbang-nimbang cincin tersebut kang-in menatap wajah wanita itu. Apakah kau Park Shin Yang? Itukah namamu? Nama yang bagus, walau …. Yah nama itu mengingatkanku pada Park Shin Yang Sunbaenim heheh… tanpa sadar kang-in tersenyum kecil, masih tetap memperhatikan wanita itu.

"Hey, Park Shin yang, apa itu benar namamu? Apa kabar mu hari ini?" kang-in menyapa wanita itu. "Hari ini cerah sekali kau tau.."

" Hey, kapan kau akan bangun? Kau tau aku sudah hampir lumutan menunggu kau bangun?" kata kang in lagi sambil mengelus wajahnya.

"Tahukah kau, sudah lebih dari dua minggu aku menunggu. Aku tak tahu siapa kau, tapi lama-kelamaan kau seperti temanku. Setiap hari aku menemanimu. Untung saja aku sedang di skors jika tidak mana mungkin orang sibuk sepertiku mau menungguimu." Kang in sedikit tersenyum kecut mengakhiri kalimatnya.

"Ah, kyu dan yang lainnya pasti sekarang sedang sibuk berlatih untuk pertunjukan super show." Kang in menatap keluar jendela dengan sedih.

Tiba-tiba… ia menoleh kearah wanita itu dengan ekspresi kaget, menatap jemarinya yang menggenggam tangan wanita itu.

"Hey… apa kau sudah sadar?"


 

Scene 15

"Hm… sepertinya ini tanda-tanda positif. Pasien mengalami kemajuan yang sangat pesat. Setelah hasil CT scan terakhir menunjukkan bahwa pendarahan di otaknya sudah sepenuhnya hilang sepertinya kemungkinan ia sembuh dari koma cukup besar. Tapi perlu saya ingatkan, ada kemungkinan ia mengalami hilang ingatan temporer," jelas dokter.

"Tapi… tidak ada efek lainnya kan dok? Seperti kelumpuhan?" tanya kang in

"Ah tidak, kan sudah kami periksa secara menyeluruh. Oya, bagaimana keluarganya? Apa mereka benar-benar tidak bisa datang?" tanya dokter

"Yah dokter, keluarganya tidak memiliki dana untuk terbang ke Korea. Jadi kami sebagai temannya mengambil alih tanggungjawab merawatnya,"jawab kang in berusaha meyakinkan dokter.

"Oh ya sudah kalau begitu… kau baik-baik menjaganya ya," kata dokter sambil menepuk bahu kang in sebelum keluar dari ruang perawatan.


 

Scene 16

Sejak dokter menyatakan bahwa wanita itu menunjukkan tanda-tanda kesadarannya, kang in semakin bersemangat menunggunya.

"Shin yang-ah… hari ini apa kau akan menggenggam tanganku lagi?" tanyanya di pagi ke 15. "Eh, kalau kau sadar nanti, aku berjanji aku akan ajak kau jalan-jalan, aku akan traktir kau makan dan tentu saja minum. Kau mau kan?" Kang in bertanya sambil menatap wajah yang tertidur didepannya.

"Eh, shin yang-ah.. apa kau tidak capek tidur terus? Aku ingin bertanya banyak padamu. Aku ingin tau siapa kau, aku ingin tau pekerjaanmu, dan aku ingin tau apa kau punya keluarga. Kau tau, aku merasa sedih, mungkin saja kau keluargamu diluar sana mencemaskan keadaanmu. Tapi itu salahmu kau tau… kenapa kau keluar rumah tidak membawa dompet, tidak membawa pengenal. Bikin susah saja, aku jadi harus berbohong. Kau tau kalau aku sudah menabrakmu. Itu saja sudah bisa bikin aku dipenjara, apalagi kalau mereka tau aku berbohong soal identitasmu. Ah… ka-…" tiba-tiba ocehan Kang in terhenti. Ia menatap dalam-dalam wajah perempuan yang terbaring itu. Ia sangat kaget saat menatapnya. Hari ini perempuan itu tidak hanya menggenggam tangannya. Bola mata coklat bulatnya terbuka. Perempuan itu sadar.

Kang in masih diam dalam kagetnya. Pandangan matanya bertemu dengan si pemilik bola mata coklat dihadapannya. Tanpa ia sadari, airmatanya menetes.

"Shin yang-ah… terima kasih. Kau sudah sadar," desisnya pelan.

Perempuan itu menatapnya bingung.

"Kamu siapa? (note: dalam bahasa indonesia)" tanyanya bingung pada Kang in.

Kang in kaget. "Apa?"

Belum hilang keterkejutannya atas sadarnya perempuan yang dia panggil Shin yang, ada kejutan lain yang menantinya. Perempuan itu menggunakan bahasa yang dia tidak mengerti. **author: maklum orang Korea kan ga semuanya tau Indonesia**

Sadar bahwa dia harus memanggil dokter dia pun berkata, "Shin yang-ah, kau tunggu sebentar, aku panggil dokter dulu."

Bergegas Kang in keluar ruangan mencari dokter.

Tak berapa lama dokter datang dan langsung memeriksa perempuan itu.


 

Scene 17

"Yoboseo…." Terdengar suara Leeteuk di ujung telepon.

"Yoboseo, hyung… ini aku Kang-in. Hyung ada kabar gembira, perempuan itu sadar," ucap Kang in dengan gembira.

"Cheongmal? Bagus kalau begitu… Syukurlah…" hening sesaat "Eh, tapi.. apa dia tidak kehilangan ingatan? Tanya Leeteuk.

Kang in terdiam.

"Umm… itu… itu masalahnya hyung. Dokter bilang perempuan itu tidak bisa mengingat untuk sementara."

"Oh begitu… lalu bagaimana?"

"Hyung… bolehkah… umm.. apa boleh, aku membawa pulang wanita itu ke apartemen kita?"

"Mwo!!!! Apa!!!! Kau sudah gila? Masa kau mau aku mengijinkanmu membawa perempuan itu? Kalaupun aku setuju, belum tentu member yang lain setuju. Dengar ya Kim Yoongwoon, bagaimana pun akan lebih membuat skandal kalau kita menyimpannya di apartemen **dikata barang apa disimpan?**," ujar Leeteuk.

"Tapi hyung… kau tau wanita ini tidak memiliki identitas, ditambah lagi dia hilang ingatan, masa iya, kau mau aku meninggalkannya sendirian? Aku sudah cukup merasa bersalah karena telah membuatnya jadi begini," jawab Kang in keras.

"Tapi Kang in-ah, apa kau tidak bisa memikirkan konsekuensinya jika hal ini tercium wartawan atau elf atau bahkan manajemen kita? Tolong pikirkan juga member yang lain."

Hening…

"Hyung… kali ini.. aku memohon padamu, bantu aku…" kata Kang-in perlahan.

Leeteuk terdiam…


 

Scene 18

Bunyi orang menekan tombol pintu apartemen terdengar, dan tak berapa lama bunyi pintu dibuka dan langkah kaki terdengar.

"Kami pulang…" Kang-in mengucap salam sambil masuk bersama seseorang.

Sebelas kepala yang berada di ruang keluarga apartemen suju menoleh kearahnya sehingga langkahnya terhenti.

"Masuklah Kang in, kami sudah menunggumu," kata Leeteuk. Kang in mengangguk dan menoleh kearah Shin yang berada disampingnya sambil menggenggam tangannya.

"Let's go, introduce you.. my brothers," kata kang in sambil menunjuk ke arah member suju.

"Hyung dan dongsaeng sekalian, ini Park Shin yang."

"Oh, ini toh sodaranya Kang in hyung. Yeppeon~ah," ucap Siwon.

"Ya udah aku duluan ya. Anneyong, Leeteuk imnida."

"Anneyong, Heechul imnida."

"Hankyung imnida."

"Yesung imnida."

"Shindong imnida."

"Sungmin imnida."

"Eunhyuk imnida."

"Siwon imnida."

"Ryewook imnida."

"Kibum imnida."

"Kyuhyun imnida."

Perempuan itu menatap mereka satu-satu dalam diam sambil tersenyum. "Hyung, kenapa dia hanya tersenyum?" tanya Ryewook.

Kang in tersenyum menatap Shin yang lalu balik menatap Ryewook sambil berkata, "Ryewook, dia ini mengerti bahasa korea tapi dia hanya menggunakan bahasa Inggris untuk bercakap-cakap. Entah kenapa, tapi mungkin ini berkaitan dengan penyakitnya. Tahu tidak kata pertama saat dia sadar dari komanya dia menggunakan bahasa yang sama sekali tidak aku mengerti."

"Koma?? Jadi dia…???" Tanya Hankyung. "Ya kalian semua tidak sopan. Kan tadi aku sudah bilang, saudara jauh Kang in ini baru saja mengalami musibah sehingga mengalami koma dan hilang ingatan temporer. Kalian jangan bertanya macam-macam, biar dia beristirahat beberapa hari disini, toh kita akan sibuk mulai pekan depan, mengerti?" Kata Leeteuk sambil memberikan tatapan jangan-tanya-tanya pada Hankyung.

"Oh..eh.. iya hyung… kalau begitu, kita makan saja sekarang, pasti Shin yang sudah lapar," kata Hankyung sambil mengangguk aku-mengerti pada Leeteuk.

Lalu Kyuhyun mengambil tas yg dibawa Kang in dan berkata, "Hyung ajaklah Shin yang ke ruang makan bersama yang lain, biar aku menaruh tasnya di kamar Hyung. Kami sudah memutuskan, kami yang sekamar dengan hyung sementara pindah di kamar Kibum hyung yang akan sibuk syuting di luar negeri pekan depan. Sementara hyung juga pindah dulu kekamar Leeteuk hyung. Mereka sudah memberi ijin, ya kan hyungdeul?" sambil meminta persetujuan dari Leeteuk dan Kibum, yang ditanya mengangguk.


 

Scene

~Shin yang flash back~

"Kamu siapa?" tanyaku. Lelaki dihadapanku yang sedang menangis sambil menggenggam tanganku terkejut.

"Apa??" dia balik bertanya. Sesaat kemudian dia bangkit dari duduknya sambil berkata "Shin yang-ah, kau tunggu sebentar, aku panggil dokter dulu."

Lima menit kemudian, setengah berlari dia dan seorang dokter memasuki ruangan. Aku yang masih bingung hanya bisa mengikuti instruksi yang diberikan.

Aku mencoba untuk duduk, kemudian aku bertanya pada dokter, "Apa yang terjadi padaku?"

Dokter terkejut, sepertinya dia tidak memahami bahasa yang kukatakan, lalu tanpa sadar aku berkata, "What'd happened to me?"

Sedikit lega, dokter itu berkata, "Ahh….you speak English. Good, you had an accident. Do you remember?"

"No…" jawab ku. Lalu dia bertanya, "What's your name?"

"oh my name is..my name is…ah.. uh… I'm…." aku tak bisa mengingatnya. Siapa aku? Siapa namaku?? Aku menatap dokter dan pria itu bergantian. Tiba-tiba aku merasa frustasi… Namaku…. Namaku….. siapa namaku?????? Tiba-tiba kepalaku terasa sakit sekali. Aku mengaduh. Dokter dengan cepat mengambil alat suntik, tak berapa lama rasa sakit itu mereda, begitu juga kesadaranku.

~end of flash back~


 

Scene

Donghae POV

Fyiuh…. Hari yang melelahkan… menemani gadis itu mencari kakaknya. Sungguh kurang kerjaan… Mana hyung memarahi aku lagi gara-gara bolos latihan dan kabur dari promosi di radio hari ini. Ahhhh… lelahh…. Enaknya sekarang mandi dulu baru tidur.. oh iya ngomong-ngomong kenapa ya Teuki hyung menyuruhku pulang cepat tadi? Baru saja dia memasuki apartemen Suju, tiba-tiba dia melihat ada sosok perempuan di ruang tengah. Maka dia kembali menutup pintu dan mengucek matanya. Heh, ini apartemen kami kan? Dia mengecek nomor apartemen. Ah bener kok, tapi kenapa ada cewe ya??? Haduhhh… jangan-jangan kayak di Mystery 6 lagi. Takut-takut Donghae membuka pintu lagi dan sekali lagi dia melihat perempuan itu. Ah kalo dua kali dilihat masih ada berarti dia orang. Donghae mendekati perempuan itu dan menepuk bahunya. Perempuan itu berbalik, dia terlihat terkejut dan berteriak…."AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA"

End of POV